DOWNLOAD NOVEL LOVE IS YOU FREE

DOWNLOAD NOVEL LOVE IS YOU FREE

Sabtu, 04 Juli 2015

BAB 2 - Novel Sleep With The Psycho

Aku sudah menyiapkan racun, pisau dan seutas tali untuk membunuh diriku sendiri kelak
 jika aku sudah tidak kuat lagi. 
            Disebuah sudut Rumah Sakit, Roy memulai penyelidikannya dengan mendatangi dokter forensik yang menangani korban yang menjadi kasusnya kali ini. Roy nampak percaya diri dengan menggunakan jas dan kaca mata hitamnya.
            Dokter forensik yang dikenal bernama Gading itu memberikan satu berkas lengkap tentang penyelidikannya kepada Roy.
“Korban meninggal kira kira dua hari setelah ditemukan. Agak sulit mempercayai ini, tapi tersangka menggunakan suntikan mematikan untuk membunuh korbannya.”
Roy membuka kaca matanya kemudian menyipit.
“Ya. Jenis suntikan yang sangat mematikan, membunuh dengan sangat cepat. Yang langsung menghentikan kinerja jantung korban.”
Kepala Roy menggeleng ketika mengeluarkan berkas yang baru saja ia terima. Beberapa foto dan kertas hasil penyelidikan. Bibir Roy menyungging sebagian ketika melihat foto korbannya yang menggunakan baju pengantin.
“Dan ada satu hal lagi.”
“Selaput dara korban terkoyak. Tapi tak ada jejak sperma disana. Tersangka sangat bersih memperkosa korbannya ini.”
Roy hanya tersenyum sinis. “Kondom.” Celetuknya kemudian.
“Diduga setelah dibunuh korban diperkosa.”
“Baik. Berkas ini akan saya pelajari lagi dikantor. Terima kasih banyak.” Ucap Roy kemudian menepuk pundak dokter itu kemudian pergi.
Disini, Gading hanya memperhatikan Roy dan beberapa polisi itu menjauh dari dirinya. Ia kemudian mendesah dan menggeleng. Paling tidak, tugasnya sudah selesai. Dia sangat lelah, ia ingin istirahat.
# # #
            Bau anyir formalin menyengat ketika jasat korban dikeluarkan dari kamar mayat. Suara tangisan keluarga pecah, memecah kesunyian malam. Jeritan tangis keluarga meledak ditengah keheningan malam yang tenang ini. Sanak keluarganya tak percaya akan ditinggalkan Manda secepat ini.
            Disini Melanie hanya mematung mengamati mereka dengan tatapan kosong. Dari sudut ruangan Melanie hanya bisa melihat mereka. Sorotan matanya tajam ketika melihat jenazah Manda sang korban diderek keluar dari kamar mayat ini menuju Ambulance yang sudah siap untuk menghantarkannya ke rumah duka.
            Matanya menyipit. Kedua tangan Melanie meremas rok suster yang ia kenakan.
Kau sungguh beruntung. Aku cemburu padamu. Ketika kau mati. Begitu banyak orang yang sedih akan kehilanganmu.
Kau sungguh beruntung. Aku cemburu padamu. Kematianmu datang begitu cepat dan segera melupakan urusanmu didunia ini.
Kau sungguh beruntung. Aku cemburu padamu. Kau tak perlu repot repot mempersiapkan pisau, racun ataupun seutas tali untuk bisa mati.
# # #
            Sementara itu, disebuah ruangan. Dimana kertas kertas menumpuk. Ribuan map tersebar diatas meja dengan satu buah komputer dan lampu neon kecil yang hanya mampu menerangi ruang kerja ini.
            Roy disini duduk, mempelajari berkas yang diberikan dokter tadi ditemani dengan seorang rekan kerjanya yang usianya lima tahun lebih muda darinya. Sedari tadi Roy nampak berkonsentrasi. Melihat kertas dan berkas ini satu persatu dengan teliti.
            Jas hitam yang ia kenakan sudah jatuh dibawah lantai. Kini ia hanya memakai hem putih dengan kancing bagian atas yang terbuka. Muka Roy menekuk, tangannya memegangi kepalanya yang otaknya sudah mulai menegang.
            “Suntikan?” Celetuknya lirih.
            Kawan yang ada disampingnya tersentak. Dan langsung melongos menatap Roy.
            “Dari mana tersangka mendapatkan semua bahan itu?”
            “Itu yang sedang kufikirkan.”
            “Barang seperti itu tidak mungkin didapatkan secara cuma cuma dipasaran.”
            “Aku tahu. Yang pasti dia bukan orang sembarangan.”
# # #
            “Melanie.”
            Seorang wanita paruh baya dengan dandanannya yang mencolok, berpakaian sangat ketat sehingga menununjukkan bentuk tubuhnya yang sexy memanggil Melanie yang duduk seorang diri dibangku taman Rumah Sakit yang masih memakai seragam susternya.
            Melanie menoleh. Orang itu sudah datang. Orang yang sudah mengundangnya untuk datang menemuinya. Melanie mendesah. Sebenarnya ia sudah tak mau lagi bertemu atau berurusan lagi dengannya.
            “Terima kasih kau sudah datang dan meluangkan waktunya untukku.”
            Wanita itu sudah berdiri tepat didepannya. Melanie hanya menatap wanita yang tiga puluh tahun lebih tua darinya itu dengan tatapan kosong.
            “Well, sepertinya aku harus langsung bicara padamu ke pokok permasalahannya.”
            Wanita itu langsung duduk berjejer dengan Melanie. Sebelumnya ia mengambil sebungkus rokok yang ada didalam tas jinjingnya, mengambil satu batang dan menyalakannya dengan sungutan api yang sudah ia persiapkan.
            Kepala Melanie agak sedikit menggeleng kearah samping menghindari asap yang mengepul dari mulut wanita itu.
            “Kau mau?” Wanita itu menawari Melanie dengan rokok yang ia bawa. Mengacung acungkan satu bungkus rokok didepan muka Melanie.
            “Tidak. Terima kasih.” Tolak Melanie.
            Bibir wanita itu menyungging sedikit. “Oke. Tak apa.” Dia langsung menaruh rokoknya kembali kedalam tasnya.
            “Aku sudah bilang padamu jangan dekati Rezi lagi. Aku tahu kau diam diam masih berhubungan dengannya.”
            “Aku tidak pernah lagi berurusan dengannya.”
            “Jangan bohong! Aku tahu kalau kemarin kau menemui Rezi.”
            “Dia yang datang menemuiku.”
            Tawa wanita itu meledak. “Bukankah kau yang selama ini mendekati Rezi.”
            Kali ini Melanie berani menatap wanita itu dengan mata yang lebar. “Kau salah. Aku tidak pernah mendekati dia dan aku sudah muak berurusan dengannya bahkan semua orang yang ada dikehidupannya!”
PLAK.
            Satu tamparan keras melayang kemuka Melanie.
            “Muak katamu? Kau perempuan hina menjijikkan beraninya kau bicara seperti itu?” Muka wanita itu merah padam ketika dia dilecehkan seperti ini.
            Melanie hanya memejamkan matanya. Merasakan panas yang ada dipipi kirinya. Rasa sakit itu langsung menjalar kehatinya. Ini sudah sekian kalinya wanita ini memperlakukan dia seperti ini.
            “Oke.” Wanita ini mengatur nafasnya. Menghisap rokok kemudian menatap Melanie lagi. “Maafkan aku.” Katanya lagi.
            Air mata Melanie perlahan menetes. Namun ia menunduk. Ia tak mau wanita itu tahu kalau dirinya menangis. Ia tak mau dikira lemah. Semakin dia lemah semakin wanita ini memperlakukan dia semaunya.
            “Kau seharusnya tahu. Kau bukanlah wanita yang tepat untuk Rezi. Aku tidak mau dia menikahi wanita yang menjijikkan dan tak sederajat dengan kita. Lagipula kau sudah menjadi wanita bekas dari laki laki yang sudah memperkosamu. Aku tidak tahu jadinya anakku akan menikah dengan wanita yang sudah mempunyai anak dari hasil pemerkosaan. Kami keluarga bangsawan dan kami tidak mau nama kami tercoreng hanya karena kau.”
            Satu lagi penghinaan yang terang terangan dilontarkan dari wanita ini. Sakit hatinya bertambah dan air matanya tak mau berhenti mengalir.
            “Untuk terakhir kalinya aku mohon padamu. Rezi saat ini tengah menjalankan wasiat ayahnya sebelum meninggal. Ayahnya sangat ingin Rezi menjadi dokter yang hebat dan mempunyai masa depan yang cemerlang. Dan aku tidak mau wasiat suamiku hancur jika Rezi nekat menikahimu. Aku juga tidak mau masa depan Rezi hancur.”
            Wanita itu kemudian membuang putung rokok yang baru saja ia hisap. Kedua tangannya kini memegang wajah melanie dengan lembut. Menatap Melanie yang matanya sudah mulai memerah karena tangisnya yang tak kunjung mau berhenti.
            “Aku mohon padamu. Jauhi anakku.”
            Melanie seperti bicara pada orang yang mempunyai kepribadian ganda. Ia sudah tak kuat lagi jika harus disakiti terus terusan seperti ini. Akhirnya dalam dekapan kedua tangan wanita itu Melanie menganggukkan kepalanya.
# # #
            Hujan badai. Gadis itu terengah engah meminta pertolongan ditengah perkebunan teh yang sangat luas. Ia terus berlari berusaha menyelamatkan diri. Kaos yang ia pakai sudah robek compang camping sampai hampir lepas dari tubuhnya.
            “Tolong!!” Teriaknya lagi.
            Na’as. Tak ada satupun orang yang mampu mendengar teriakannya ditengah perkebunan teh yang membentang luas di kampung ini. Namun suara dua orang pemuda yang mengejarnya kian keras. Mereka malah tertawa bersama sama.
            “Lepaskan saya!”
            Gadis itu makin mempercepat larinya. Nafasnya tersengal sengal menahan isak tangisnya. Kakinya terhuyung huyung berlari diatas tanah yang tidak rata ini. Namun ia tetap berusaha untuk menyelamatkan diri.
            “Mau lari kemana kau manis?”
            Suara tawa menggelegar bersamaan dengan suara petir yang saling sahut. Dua pemuda itu akhirnya menyebar dan mencari cara untuk menangkap gadis mungil mangsanya itu.
            “Tolong! Jangan!”
            Gadis itu meronta ketika lengannya berhasil digeret oleh salah seorang pemuda yang mengejarnya. Pemuda itu langsung mendorongnya jatuh ketanah sehingga tubuhnya bermandikan lumpur.
            “Jangan!”
            Dia terus meronta berusaha melepaskan dirinya dari cengkeraman tangan dari kedua bajingan ini. Tapi tidak bisa, kaki dan tangannya sudah terkunci oleh kedua lelaki ini. Mereka berhasil membuat gadis ini tak berdaya terbaring diatas tanah yang sudah menjadi lumpur karena air hujan.
            “Lepaskan!”
            Kedua pemuda itu terus teratawa. Mereka langsung melepas baju dan melorotkan celana mereka secara bersamaan.
            “Semakin kau menolak aku semakin terangsang sayang.”
            Pemuda pertama langsung menciumi bibir gadis itu dengan buas. Gadis itu tetap menggeleng geleng melemparkan kepalanya kesegala arah menghindari ciumannya. Tapi lelaki itu tetap memaksa ia terus berusaha mendapatkan bibirnya.
            Cuihhhh.
            Gadis ini meludah tepat dimuka pemuda yang pertama menindihnya.
            “Kurang ajar!”
            Satu hantaman keras mendarat kemuka gadis ini hingga darah mengalir dari hidung dan pinggir bibirnya. Gadis itu langsung merasakan pusing dikepala dan pandangannya mengabur.
            Pemuda kedua dengan liarnya langsung menggerayangi tubuh gadis ini dan segera melepas kaos yang ia kenakan dan melorotkan celananya sampai turun kebawah. Gadis itu sekarang hanya bisa menangis dan terus menangis. Harga dirinya sudah hancur dinjak injak oleh kedua pemuda ini.
            “Aaaaaaaa!!!!”
            Suara teriakan pecah keluar membahana dari mulut gadis kecil tak berdaya ini ketika pemuda yang menindihnya mengoyak dan menembus kedalam dirinya.
            “Melanie Melanie Melanie!!!!!!”
            Sayup sayup terdengar suara mamanya menggoyang goyangkan tubuhnya sambil memanggil manggil dirinya yang sedang menjerit jerit terbaring diatas tempat tidurnya.
            “Bangun Melanie.”
            Perlahan Melanie membuka matanya. Melihat wajah mama angkatnya yang tiba tiba muncul dihadapannya. Melanie kemudian bangkit dari tidurnya, ia melirik bayinya yang ikutan terbangun mengamati dirinya.
            “Kau tidak papa?”
            Melanie mengangguk cepat. Ia bernafas lega. Rupanya ia sedang bermimpi. Kepalanya pusing, ia masih tak bisa melupakan kejadian biadab itu. Setiap hari ia terus dihantui oleh masa lalunya yang kelam. Dan dengan kehadiran Alif bayinya, malah memperburuk keadaan bagi dirinya.
Melanie melirik bayinya yang masih melongo menatap Melanie yang sedari tadi menjerit jerit didalam tidurnya.
            “Syukurlah. Kau tidurlah lagi biarkan Alif mama yang urus.”
            Melanie mengangguk lagi. Ia kemudian merebahkan tubuhnya lagi dan menarik selimutnya dan segera menutup matanya mengistirahatkan otaknya yang sangat lelah.

Aku ingin tidur. Bisakah untuk selamanya?

BAB 1 - Novel Sleep With The Psycho

Hal yang paling indah dalam hidupku adalah, ketika aku sudah berhenti bernafas dan melupakan semua urusan yang ada didunia ini
            Malam hari, ketika sorotan lampu temaram menemani seorang wanita berpakaian serba putih duduk disebuah kursi lorong rumah sakit dengan pandangan kosong mengamati setiap orang lalu lalang yang lewat didepannya. Raut mukanya sendu, matanya menyipit.
Aku iri dengan hidup kalian. Lahir dengan bahagia, dibesarkan di keluarga yang lengkap dan mengenal nama ayah dan ibu kalian.
Aku iri dengan hidup kalian. Dapat tertawa dengan puasnya, dapat makan dan minum apa saja, menghabiskan uang berapapun untuk hidup glamour dan pesta pora.
Aku iri dengan hidup kalian. Tahu apa tujuan hidupmu. Tahu bagaimana menyenangkan hidup dan tahu bagaimana caranya bahagia.
Aku iri dengan hidup kalian. Berbagi kasih dengan orang yang kau sayangi. Berbagi derita dengan orang yang kau cintai. Membesarkan buah hati dengan kasih cinta kalian.
Bahkan aku? Aku tak punya 1% pun bagian dari hidup kalian.
            Mata perempuan itu menyapu, ia kemudian bangkit dari kursinya, memasukkan tangannya kekantong, menegakkan kepalanya yang masih dengan tatapan kosong dan berjalan menyusuri lorong ini.
            “Melanie.” Seorang Dokter Forensik datang terburu buru memanggil namanya.
            Melanie menoleh, mengamati dokter dengan rambut yang acak acakan. Ia nampak sangat tergesa gesa.
            “Bantu saya mengautopsi jasad asing di ruang autopsy sekarang.”
            “Baik dok.”
Inilah ceritaku. Menerima perintah dan melaksanakan perintah. Aku hanyalah seorang bawahan. Perawat disebuah Rumah Sakit dengan upah yang habis untuk menghidupi anak haram yang lahir dari rahimku dan seorang mama angkatku yang sakit sakitan.
Inilah ceritaku. Orang yang tak pernah sekalipun merasakan kebahagiaan. Bahkan masa kecilpun kuhabiskan dengan hidup dipanti asuhan. Aku kira aku akan bahagia ketika aku diangkat anak. Tapi ternyata aku salah, aku hanya diperalat. Dia tega menggunakan aku sebagai pembantunya.
Kini dia sedang sakit, bahkan aku? seperti terjebak dalam hidupnya. Mengurusinya dan memberinya makan sekarang adalah kewajibanku.
            Melanie kini sudah mengenakan sarung tangan, jas, lengkap dengan maskernya. Ia sudah berada didalam ruang autopsy.
            “Lepaskan seluruh pakaiannya. Kita akan memulai autopsinya sekarang juga.”
            Melanie menganggukkan kepalanya dan menghampiri jasad yang sudah terbujur kaku disana.
Astaga!
            Mata Melanie melotot.
Siapa dia? Mengapa dia? Mengapa ia meninggal dengan baju pengantin?Dan mengapa dia tampak begitu cantik?
# # #
            Orang orang berseragam polisi nampak berkerumun di Tempat Kejadian Perkara. Batas kuning sudah dipasang tanda orang tidak boleh melintasinya. Ditempat ini korban ditemukan. Duduk manis dengan gaun pengantin dan menggenggam bunga di gedung kosong ini.
            Anjing anjingpun menggonggong saling sahut saat diminta petugas polisi untuk mngendus siapa dalang dibalik pembunuhan ini. Suara sirine sedari tadi terdengar. Banyak orang datang ketempat ini demi mengobati rasa penasaran mereka.
Kilatan kilatan kamera membanjiri tempat ini, reporter wartawan saling berebut mencari gambar paling bagus. Mereka nampak berlari berbondong bondong saat seorang detektif yang namanya cukup terkenal datang ketempat itu.
“Semuanya minggir minggir.” Dua orang bodyguard berbadan kekar melindungi detektif itu dari banyak nya wartawan yang mulai mengerumuninya.
Mata Roy menyipit saat mempelajari berkas yang baru saja diserahkan polisi kepadanya. Kejadian ini sangat langka dan baru pertama kali terjadi saat Roy sudah sepuluh tahun menjabat sebagai detektif yang dikenal handal dilingkungannya.
“Tersangaka masih buron.” Ujar seorang lelaki berseragam itu. “Sampai saat ini kita belum menemukan titik terang. Tersangka sangat pandai membersihkan barang bukti. Saya kira tersangka sangat berpengalaman dalam hal ini.”
Roy hanya menyunggingkan sedikit bibirnya. “Sepintar pintarnya dia membersihkan para korbannya. Dia tidak bisa mengalahkan hidungku yang pandai mengendus.” Ujar Roy dengan percaya dirinya.
Polisi itu nampak mngernyit. “Kita masih menunggu autopsi bagaimana cara Tersangka membunuh korbannya.”
“Hubungi Rumah Sakit kapan hasilnya akan keluar.”
“Sudah saya lakukan. Paling cepat besok.”
Roy kemudian menguap. “Bagus. Paling tidak aku bisa tidur untuk malam ini.” Dia menguap dengan lebarnya dan meninggalkan tempat itu dan tak lupa menepuk pundak polisi itu.
Polisi itu hanya mendesis. Beradu mata dengan sesama polisi yang ada disampingnya. “Sombong sekali dia.” Polisi itu kemudian meludah jijik melihat punggung detektif itu pergi ditemani dengan dua orang bodyguardnya.
Seseorang dari kerumunan penonton nampak begitu khawatir. Sedari tadi ia hanya menggenggam ponselnya berusaha menghubungi seseorang. Tapi ia mulai putus asa. Orang yang dihubunginya tak kunjung menjawab panggilannya.
“Melanie. Kau dimana?” Desisnya.
            Panggilannya akhirnya tersambung. Seorang wanita yang amat ia cintai akhirnya mau menjawab telfonnya.
            “Syukurlah kau baik baik saja.”
            “Ada apa?”
            “Kau dimana?”
            “Jangan menghubungiku lagi, aku sudah muak denganmu.”
            “Maaf. Aku hanya terlalu khawatir. Begitu banyak pembunuhan saat ini. Mulai sekarang jangan pergi sendirian. Dengan begitu kau akan baik baik saja.”
            “Aku sedang sibuk. Aku akan membantu dokter melakukan autopsi. Kau salah jika kau melarangku pergi sendirian. Bukankah kau tahu kalau aku selalu sendirian?”
            “Tapi Mel.”
Sambungan terputus.
            Rezi hanya bisa mendesah. Dipandanginya foto gadisnya diwalpaper ponselnya. Ia begitu sangat mencintai gadis ini. Dan berharap dia akan selalu baik baik saja.
# # #
            “Melanie!” Bentar dokter Gading. “Tutup telfonmu dan cepat lepaskan seluruh pakaian jasad ini sekarang!”
            “Maaf.” Melanie segera memasukkan ponselnya kesakunya. “Baik dok.”
# # #
            Waktu terus bergulir, dentingan jam dindingpun terus berjalan dan Rezi masih duduk disudut lorong Rumah Sakit menunggui wanitanya keluar dari ruang autopsi. Ia sudah terkantuk kantuk namun ia menahannya.
            Ini sudah dini hari dan Rezi masih bertahan.
Klek.
Suara kunci pintu dibuka.
            Rezi langsung terperangah. Matanya yang terkantuk tak jadi terpejam. Ia segera bangkit dan berdiri menunggui Melanie yang keluar dari ruangan itu.
            “Hei Mel.” Senyuman Rezi mengembang ketika ia melihat orang yang ditungguinya sekian lama akhirnya datang.
            Melanie bergegas pergi melangkahkan kakinya menjauh dari Rezi. Langkahan kakinya segera ia percepat menghindari lelaki ini. Lelaki yang dia kira juga akan membuatnya bahagia. Namun ia salah. Melanie terlanjur percaya bahwa takdirnya tidak akan pernah bisa bahagia.
            “Sudah kubilang jangan pernah temui aku lagi. Aku tidak mau berurusan dengan orang tua mu lagi.”
            “Aku mencintaimu Melanie. Suatu saat aku yakin orang tuaku akan setuju dengan hubungan kita asalkan kita berjuang bersama sama.”
            Melanie menghentikan langkahnya. Kini ia berani memandang wajah Rezi dengan tajamnya.
            “Berjuang kau bilang? Sekuat apapun kita berjuang, kita tidak akan pernah menghancurkan karang yang ada dihati orang tuamu.”
            “Melanie.” Kedua tangan Rezi meraih kepala Melanie yang sudah ingin menangis menumpahkan air matanya.
Plak!
            Satu tamparan keras melayang ke wajah Rezi saat tangan Rezi benar benar menyentuhnya.
# # #
            Sudah hampir shubuh ketika melanie sudah sampai didepan rumahnya sendiri. Rumah kontrakan kecil yang ia tinggali bersama anak dan mama angkatnya. Kini ia merebahkan tubuhnya diatas ranjangnya berharap semua masalahnya selesai ketika ia sudah terlelap nanti.
            Suara rengekan anak kecil tiba tiba menganggunya, suara itu mengusiknya ditengah tengah puncak kelelahannya. Ia ingin tidur tapi bayi itu sudah bangun. Suara bayi itu kian keras. Teriakannya menggema. Teriakan anak yang sangat kehausan. Anak itu membutuhkan Melanie. Sangat membutuhkannya. Tapi Melanie sangat lelah. Lagipula siapa anak itu. Anak yang lahir bukan karena keinginannya dan telah menghancurkan hidupnya.
            “Diam!!” Bentaknya.
            Teriakan anak itu kian kencang. Bayi berumur enam bulan itu sangat kehausan. Dia meronta ingin segera dihapuskan seluruh dahaganya.
            Melanie menutup kedua telinganya dengan bantal. Ia sudah muak dengan anak itu. Ia ingin segera membuang anak haram itu. Anak hasil pemerkosaan oleh orang yang tak ia kenal. Kalau bukan karena dia, pasti dirinya sudah menikah dengan Rezi kekasihnya dan dirinya tidak akan dihina oleh orang tua Rezi.
            “Diam!” Bentaknya lagi.
            Tapi rengekan bocah kecil itu terus menggema. Kerongkongannya sudah nyaris kering. Ia butuh air. Membutuhkan susu ibunya.
            Melanie menoleh kearah bocah lelaki yang tepat ada disampingnya yang meronta ronta. Tatapan Melanie penuh kebencian. Penuh dendam. Penuh amarah. Tapi bayi itu tak berdaya, bayi itu sangat lemah. Bayi itu begitu mungil. Ia hanya haus. Dan apakah Melanie tega membiarkannya? Membiarkan anak kecil tak berdosa menjerit kehausan.
            Tatapan Melanie berubah menjadi sendu. Perasaan keibuannya mulai muncul. Anak ini tak berdosa. Ia tidak tahu apa yang dilakukan ayahnya. Ia sama seperti dirinya. Dia hanyalah korban.
            “Maafkan mama sayang.” Direngkuhnya anak itu dengan kasih. Melanie segera membuka kancing seragam susternya dan mengeluarkan payudaranya, memberikan ASI yang bocah itu inginkan.
            Bayi itu dengan rakusnya langsung melahap puting mamanya. Menyedotnya susu mamanya dengan sangat rakusnya. Ia sangat kehausan. Akhirnya air mengalir dikerongkongannya. Bayi itu sangat puas. Isakannya segera berhenti dan tangisnya segera menghilang.
            “Anak pintar.” Melanie membelai rambut anaknya yang tebal. Bayinya tertidur lagi setelah ia puas meminum air susunya.

            Satu kecupan sayang mendarat kedahi anaknya itu. “Maafkan mama sayang.” Desisnya lagi.

Prolog - Novel Sleep With The Psycho

Malam begitu kelam. Saat sang bulan tak lagi mampu menyinari kota tua ini. Suara petir membahana bersamaan dengan angin yang bertiup kencang, ketika Manda berlari ketakutan menembus badai ditengah kedinginan yang menggigil.
    Deru nafas terdengar memburu. Ia ngos ngosan tapi ia tak perduli. Ia hanya ingin berlari. Ia ketakutan. Sangat ketakutan.
        Darah segar didahinya mengalir bercampur dengan guyuran air hujan. Suara perih disekujur tubuhnya tak ia rasakan lagi. Yang ia butuhkan saat ini hanyalah pergi menjauh. Pergi sejauh yang ia bisa.
            Baju sexi yang ia kenakan sudah basah kuyup. Wajahnya sudah memucat, jari jari tangannya sudah membiru. Nafasnya terus memburu memompa oksigen sampai ke paru parunya. Jantungnya berdegup kencang. Tapi sesak. Ia sudah letih. Ia ingin berhenti tapi ia takut. Takut orang itu akan membuntutinya lagi. Meninggalkan kengerian yang sama sekali tak ia mengerti.
            Tiba tiba matanya pudar. Pandangannya sudah mulai kabur. Sendi sendi kakinya seakan sudah tak mampu lagi untuk berlari. Ia letih. Teramat letih. Akhirnya ia menyerah. Ia tertelungkup menyelonjor kakinya dibawah bangunan kuno.
            Jadi hanya itu kemampuanmu?
            Suara itu muncul lagi. Jelas terdengar ditelinga Manda.
            “Kau siapa? Kau siapa?” Teriaknya kencang mencari sumber suara itu. Kepalanya menggeleng matanya liar mencari dimana suara itu berada. Dia terus mengikutinya. Dari kemarin. Mungkin dari sebelum kemarin. Ia tak ingat. Yang jelas ia selalu diteror. Ia ketakutan. Ia ingin berlari tapi ia sudah tak sanggup berjalan lagi.
            Suara itu terdengar mendekat. Suara itu bagaikan mimpi buruk. Suara yang sama persis seperti malaikat pencabut nyawa untuknya. Suara yang seakan mengatakan, Hai, waktumu sudah habis. Sebentar lagi kau akan menemui ajalmu.
Wanita itu semakin ketakutan. Detak jantungnya sudah seribu kali lebih cepat dari yang biasanya. Nafasnya sudah sesak dan jiwanya sudah menegang.
            “Hai cantik.” Suara itu. Suara yang selalu menghantuinya kini sudah ada dihadapannya.
            “Mau apa kau?” Teriaknya lagi. “Jangan menggangguku lagi.” Isakan tangis Manda tak dihiraukan bayangan itu.
Bayangan itu nekat mendekat.
Satu menit berlalu. Tiba tiba suara itu menghilang. Desahan nafas itu juga tiba tiba hilang. Yang ada sekarang hanyalah suara deruan air hujan yang asiknya bergemericik. Yang ada sekarang hanyalah bekas darah yang mengalir berdesir didahinya.

            “Kau memang pengantinku yang cantik.” Senyum lebar tersungging lebar dari bibir bayangan itu. “Gaun ini begitu indah di tubuhmu sayang.

Kamis, 07 Mei 2015

DOWNLOAD NOVEL "LOVE IS YOU" GRATIS by Devi Nandasari

DOWNLOAD FREE

di play store ponsel pintarmu
A Novel by Devi Nandasari ( Penulis Semua Karena Cinta, Short Distance Relationship )

REVIEW :
Semenjak mamanya meninggal, Yuki harus melupakan semua kenangannya di Indonesia dan hijrah ke kota Jepang untuk tinggal bersama papa dan mama tirinya.
Dalam hidupnya Yuki tidak pernah tahu, kalau papanya adalah seorang CEO perusahaan tempat naungan para artis-artis dikota Jepang dan merupakan salah satu orang terpandang dinegara ini.
Hingga tanpa disengaja, ia bertemu dengan Kenichi, sesosok makhluk misterius salah satu artis yang bekerja diperusahaan papanya yang tanpa sadar membuat Yuki jatuh cinta kepadanya. Dan, ketika Kenichi membalas perasaanya, Yuki harus rela patah hati kalau ternyata cintanya bersama Kenichi adalah sesuatu yang abnormal.
Ternyata kehadirannya di Jepang merupakan sesuatu kesalahan besar, mama tirinya, orang yang telah merebut papanya dari mama kandungnya tidak pernah benar-benar mencintai Yuki dan membuat Yuki semakin tersudut.
Untung saja, disaat dirinya benar-benar terpuruk, Yuki mempunyai sahabat terbaik bernama Hiro, seorang mahasiswa Jepang dari Indonesia yang selalu ada untuknya.
Tapi bagaimana jadinya kalau persahabatan Yuki bersama Hiro yang selama ini terjalin, dinodai oleh kebohongan yang amat besar? Dan bagaimana kelanjutan cintanya yang abnormal bersama Kenichi? Lalu apa jadinya jika selama ini yang paling banyak tersiksa batinnya bukanlah Yuki melainkan mama tirinya?

Rabu, 11 Maret 2015

Sinopsis Lengkap Nowhere Safe

Ashley seorang gadis SMA yang dulunya orang yang ceria, mempunyai banyak teman dan mempunyai kehidupan SMA yang luar biasa dan bahagia kini telah hancur. Reputasinya berubah setelah ada dua orang gadis yang tidak menyukainya menuduh dirinya. Dua orang gadis itu mengaku bahwa dirinya adalah Ashley dan melakukan suatu hal yang menyeramkan didunia online sehingga Ashley yang sebenarnya dituduh melakukan hal tersebut dan akibatnya Ashley menjadi bulan bulanan disekolah dan dibully anak anak satu sekolah.

Ashley tak tahan berada disekolah itu dan akhirnya ia memaksa ibunya untuk pindah dari sekolah dan lingkungannya karena ia terus diteror sepanjang hari bahkan dirumahnya sekalipun.


Ashley pindah kerumah baru dan tentu saja sekolah baru. Disekolah baru ibunya juga berada disitu sebagai guru drama dan Ashley, ia berubah menjadi orang yang cenderung menutup diri dan hanya Max temannya satu sekolah yang juga merasa tak punya teman karena sekolah disini beberapa anak cenderung berteman secara mengelompok.

Salah satu kelompok yang selalu membuat masalah adalah kelompok dari Nick. Ia adalah ketua geng disitu dan sering menggoda orang yang ada disekitarnya termasuk Max.

Awalnya Nick tidak menyukai Ashley, hingga suatu saat Nick tertarik dengan Ashley dan mulai ada perasaan disana hingga membuat salah satu gadis yang juga dekat dengan Nick cemburu pada Ashley.

Cerita berlalu hingga guru sejarah Ashley yang eksentrik akhirnya juga tertarik pada ibu Ashley dan mereka akhirnya dekat.

Waktu berlalu dan Nick merasa jatuh cinta pada Ashley dan gadis yang menyukai Nick terbakar cemburu dan tiba tiba dua gadis yang dulu menuduh Ashley disekolah lamanya muncul kembali dan membantu gadis itu untuk melakukan hal buruk pada Ashley.

Nick akhirnya menjauhi Ashley dan teman temannya disekolah juga ikut menjauhi Ashley hingga suatu saat Max datang menyadarkan Nick dan mereka berdua membantu Ashley untuk membersihkan namanya yang dulu tercemar.


Senin, 09 Maret 2015

Sinopsis Lengkap Divergent

Kisah ini berlangsung di kota Chicago dimasa sehabis perang nuklir. Penduduk kota saat ini dibagi menjadi 5 faksi:

Abnegation untuk orang-orang yang tidak mementingkan diri sendiri dan tanpa pamrih;  
Amity untuk orang-orang yang cinta perdamaian;  
Candor untuk orang-orang jujur;  
Dauntless untuk orang-orang pemberani; dan  
Erudite untuk orang-orang cerdas.

Seorang gadis enam belas tahun bernama Beatrice Prior terlahir dari keluarga Abnegation. Saat ini Beatrice berusia 16 tahun yang berarti harus mengikuti tes penentuan Fraksi. Dia harus memilih meninggalkan faksi ini yang berarti meninggalkan orang tuanya, membuang namanya untuk hidup bersama faksi yang baru atau tetap tinggal menjadi fraksi ini ,

Saat menjalani tes, betapa terkejutnya Beatrick jika ia termasuk golongan divergent. Sang pengetes memberi peringatan ke Beatrick jika ia harus merahasiakan hasil tes ini atau dia akan celaka.

Beatrice memutuskan untuk pindah ke fraksi Dauntless. Namun, Tris harus lulus tes inisiasi terlebih dulu agar bisa diterima ke Dauntless. Tak ada jalan kembali. Tak lulus inisiasi berarti Tris akan bergabung dengan orang-orang yang terbuang dan hidup menggelandang. Para calon Dauntless harus saling bertarung dan akhirnya, hanya sepuluh orang saja yang akan diterima sebagai anggota.

Beatrice mengganti nama dirinya Tris dan berteman dengan beberapa anak transfer lainnya. Tris berusaha keras untuk mempertahankan diri di Dauntless, tetapi ia selalu menjadi peringkat terbawah tetapi akan usahanya ia berhasil masuk sepuluh besar meski itu sangat sulit ia lalui hingga hampir dibunuh oleh temannya sendiri.

Malam berikutnya, ketika akhirnya diputuskan sebagai anggota Dauntless. Seluruh anggota Dauntless disuruh berkumpul dan berbaris dan dileher mereka disuntikkan sebuah serum yang mana serum itu dibuat untuk mempengaruhi otak agar menuruti semua perintah dari bos mereka yaitu menghancurkan abnegation dimana itu semua adalah fraksi orang tua Tris. Hanya seorang divergent yang tidak terpengaruh oleh suntikan itu.

Serum tidak bekerja pada Tris maupun four karena keduanya divergen. Setelah tiba di kompleks penyangkalan, Tris dan four mencoba untuk melepaskan diri untuk melarikan diri. Saat usaha itu dia dibantu oleh kedua orang tuanya dan kakaknya. 


Mereka berusaha untuk menghentikan kinerja serum yang sedang mempengaruhi seluruh anggota Dauntless yang digunakan bos mereka untuk membunuh para abnegation. Tapi betapa naasnya, orang tua Tris terbunuh dan Four orang yang dicintai Tris terpengaruh oleh serum itu. Tetapi akhirnya didetik terakhir Four tersadar dan mereka dapat menghentikan kinerja serum itu dan dapat melarikan diri dengan selamat.